Senin, 13 Februari 2012

Perbedaan Antara Cost dan Expense Dalam Akuntansi

 
Banyak orang mendefinisikan cost=biaya dan expense=beban, ketika ditanya apa perbedaannya antara “biaya” dan “beban” yang mereka sebutkan itu, mereka menjawab tidak ada perbedaan. Hal tersebut terjadi memang karena tidak ada padanan kata yang tepat untuk istilah “cost”.

Mari kita ambil sebuah contoh untuk menjelaskan perbedaan antara dua terminology tersebut.Anggaplah anda memiliki sebuah perusahaan percetakan kartu undangan. Pada suatu hari anda menerima pesanan dari sebuah keluarga untuk mencetak katu undangan sebanyak 1000 lembar. Pagi harinya anda belanja kertas 1200 lembar (2,4 rim) dengan harga per rim misalkan Rp 100.000. Dengan demikian anda membeli kertas itu senilai Rp 240.000.

Dalam hal ini, estimasi anda (anggaplah akurat) untuk membuat 1.000 lembar undangan tersebut anda akan menhabiskan 1.000 lembar kertas (anggap ga ada yang defect :))
Sisanya anda simpan di gudang sebanyak 200 lembar senilai Rp 40.000 untuk keperluan di waktu mendatang. Dalam contoh ini, Cost sebanyak Rp. 240.000 terdiri dari Expense Rp 200.000 dan Asset (Inventory/Persediaan) Rp. 40.000.

Dari contoh di atas kita bias ambil kesimpulan bahwa “Accountants use the term expense to mean a cost that has being used up while a company is doing its main revenue-generating activities” atau secara gampangnya, expense itu adalah cost yang dipakai untuk mendatangkan revenue (menjalankan aktifitas utama bisnis).

Sebuah Cost Belum tentu menjadi sebuah Expense. Seperti kita lihat di atas, Cost sebesar Rp. 240.000 itu terdiri dari Rp 200.000 sebagai expense dan Rp 40.000 sebagai asset. Contoh yang mungkin paling ekstrim adalah ketika kita membeli tanah untuk menjalankan sebuah bisnis. Maka cost tanah tersebut hanya akan dicatat sebagai asset dan tidak akan menjadi sebuah expense karena tanah tidak bisa didepresiasi.

Begitu juga ketika kita membeli sebuah Mobil misalkan untuk delivery service makan di balansheet cost dari mobil tersebut akan dicatat sebagai asset (Truck), tetapi seiring berjalanya waktu, cost tersebut akan menjadi sebuah expense karena mobil tersebut tentunya terdepresiasi ketika dipakai dalam menjalankan bisnis dan itu pun tergantung dari metode apa dalam menghitung depresiasinya.

Di perusahaan manufacture kita mengenal ada yang disebut Material Cost, Direct Labor Cost. Nah, Direct Labor Cost ini diakui sebagai Cost of Product (Biaya Produk). Jika produk tersebut tidak terjual maka keseluruhan Cost of Product (termasuk Direct Labor) akan dicatat sebagai Asset. Nah baru ketika produk tersebut dijual, maka Cost of Product tersebut akan dilaporkan sebagai Cost Of Good Sold.

Sedangkan di sisi lain, Buruh atau upah seorang sopir pengantar barang atau satpam dari perusahaan manufacture tersebut akan dicatat sebagi expense. Dengan kata lain, cost yang dipakai di luar produksi tidaklah masuk ke dalam category product cost.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar